
Transportasi Sungai Kalimantan Diperkuat, Logistik Kian Cepat
Transportasi Sungai yang selama ini menjadi nadi penghubung wilayah-wilayah di Kalimantan kini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Langkah penguatan sarana dan prasarana sungai menjadi bagian dari strategi besar untuk mempercepat mobilitas logistik, menekan biaya distribusi, serta membuka akses ke daerah terpencil. Dengan luas wilayah yang di dominasi oleh hutan dan sungai, Kalimantan punya potensi besar untuk mengoptimalkan transportasi air sebagai alternatif selain jalur darat yang kerap sulit di tembus.
Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, memiliki jaringan sungai yang mengular dari hulu ke hilir, menjadikannya jalur alami yang telah di manfaatkan sejak zaman dahulu. Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, hingga Sungai Barito di Kalimantan Tengah adalah contoh jalur yang telah menopang pergerakan orang dan barang selama berabad-abad. Di banyak wilayah pedalaman, transportasi sungai adalah satu-satunya akses yang memungkinkan.
Menurut data dari BPS Kalimantan Tengah (2023), sekitar 65% barang logistik ke wilayah hulu di angkut melalui jalur sungai. Hal ini bukan tanpa alasan, karena banyak daerah yang belum terjangkau jalan aspal atau jalan darat berkualitas. Di musim hujan, ketika jalan tanah rusak atau tertutup longsor, jalur sungai justru tetap dapat diandalkan karena volume air meningkat dan perahu bisa bergerak lebih leluasa.
Transportasi sungai yang telah menjadi bagian budaya lokal belum berjalan efisien karena terbatasnya infrastruktur dan minimnya teknologi navigasi. Menyadari potensi ini, pemerintah kini memprioritaskan penguatan infrastruktur sungai sejalan dengan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur.
Transportasi Sungai yang diperkuat akan berdampak besar pada distribusi logistik barang kebutuhan pokok, bahan bangunan, dan alat berat. Dampak ini terutama terasa menuju lokasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kawasan ekonomi strategis lainnya.
Transportasi Sungai: Proyek Modernisasi Dan Penguatan Infrastruktur
Transportasi Sungai: Proyek Modernisasi Dan Penguatan Infrastruktur sebagai upaya konkret, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Perhubungan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Ditjen PSDP) telah menggelontorkan anggaran untuk revitalisasi pelabuhan sungai, normalisasi alur sungai, dan penyediaan armada angkutan air. Pada tahun 2024, setidaknya Rp1,2 triliun di alokasikan untuk pengembangan moda transportasi sungai, sebagian besar di tujukan ke Kalimantan.
Salah satu proyek unggulan adalah revitalisasi Pelabuhan Sungai Kumai di Kalimantan Tengah dan modernisasi Pelabuhan Sungai Mahakam di Samarinda. Proyek ini mencakup pembangunan gudang logistik, pemanjangan dermaga, dan pemasangan sistem navigasi satelit untuk kapal lebih aman. Kedua pelabuhan ini diharapkan menjadi simpul logistik utama yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan pusat pertumbuhan ekonomi nasional secara efisien.
Pemerintah menggandeng investor swasta dan BUMN seperti Pelni serta ASDP untuk operasikan armada logistik sungai ramah lingkungan. Kapal-kapal ini memakai teknologi rendah emisi dan dapat mengangkut 50 ton barang per perjalanan, kurangi beban darat. Pengoperasian armada modern ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah menekan emisi karbon dalam sektor transportasi dan distribusi nasional.
Salah satu terobosan penting adalah integrasi jalur sungai dengan sistem logistik nasional berbasis digital. Melalui platform Indonesia National Logistics Ecosystem (NLE), distribusi barang dari pelabuhan utama ke pedalaman Kalimantan kini dapat dipantau secara real time. Ini memberikan kepastian waktu tempuh serta transparansi biaya logistik.
Langkah ini di nilai strategis oleh pengamat transportasi dari ITB, Ir. Taufik Hidayat, M.T., yang mengatakan bahwa transportasi sungai adalah jalur masa depan bagi Kalimantan karena lebih hemat energi, berbiaya rendah, dan minim konflik lahan. “Memperkuat moda ini sama artinya dengan membuka isolasi daerah dan mempercepat pemerataan ekonomi,” ujarnya dalam webinar nasional Mei 2024 lalu.
Efisiensi Biaya Dan Dampak Ekonomi Untuk Masyarakat
Efisiensi Biaya Dan Dampak Ekonomi Untuk Masyarakat modernisasi transportasi sungai bukan hanya urusan pemerintah dan pelaku logistik besar. Dampaknya juga sangat terasa bagi masyarakat lokal, khususnya di daerah pedalaman. Biaya logistik yang selama ini tinggi—karena ketergantungan pada angkutan truk dan bahan bakar yang mahal—kini dapat di tekan hingga 30%.
Laporan Kemenko Perekonomian Q1 2024 mencatat harga beras, gula, dan minyak goreng di hulu Kapuas turun signifikan. Penurunan harga sekitar 12–18% terjadi setelah armada sungai beroperasi lebih terjadwal, memperlancar distribusi bahan pokok ke wilayah tersebut. Distribusi semen dan besi untuk pembangunan rumah warga juga jadi lebih cepat dan murah. Harga logistik yang lebih stabil turut mendorong pembangunan infrastruktur perdesaan yang sebelumnya terkendala ongkos angkut tinggi dari jalur darat.
Selain itu, masyarakat lokal juga mendapatkan manfaat dari lapangan kerja baru yang tercipta. Banyak warga yang di libatkan sebagai awak kapal, petugas pelabuhan, teknisi perawatan, hingga operator logistik digital. Pemerintah daerah juga membuka pelatihan khusus di Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mempersiapkan SDM lokal yang kompeten di sektor ini. Dengan keterampilan baru ini, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian aktif dari rantai ekonomi transportasi sungai.
Penguatan transportasi sungai mendorong ekonomi mikro dengan mempercepat pengiriman rotan, hasil kebun, dan ikan air tawar. Produk-produk lokal kini bisa sampai ke kota besar lebih cepat, membuka akses pasar baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat daerah. Hal ini memperluas pasar bagi UMKM dan meningkatkan nilai jual produk karena kualitas barang terjaga.
Contoh konkret terlihat di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, di mana waktu tempuh pengiriman rotan ke Pontianak berkurang dari 5 hari menjadi 2 hari, setelah revitalisasi rute sungai dan pengoperasian kapal logistik baru. Efeknya, pendapatan petani rotan naik sekitar 20% dalam dua kuartal terakhir.
Tantangan Dan Harapan Jangka Panjang
Tantangan Dan Harapan Jangka Panjang meski potensinya besar, penguatan transportasi sungai di Kalimantan bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah sedimentasi dan pendangkalan sungai akibat deforestasi serta kegiatan tambang ilegal. Ini menyebabkan jalur kapal kerap terhambat dan memerlukan pengerukan berkala yang menelan biaya tinggi.
Kendala lain adalah minimnya budaya keselamatan dalam pelayaran sungai. Menurut laporan Basarnas Kalimantan Selatan (2023), 67% kecelakaan air di wilayah tersebut di sebabkan oleh kelebihan muatan dan tidak di gunakannya alat keselamatan seperti jaket pelampung. Oleh karena itu, edukasi masyarakat dan penegakan regulasi menjadi kunci penting.
Masalah lainnya adalah konflik ruang antara penggunaan sungai sebagai jalur transportasi dan fungsi ekologisnya. Sungai juga menjadi sumber air minum, habitat satwa, dan tempat aktivitas budaya. Maka, pengembangan transportasi harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan kearifan lokal agar tidak merusak keseimbangan alam.
Ke depan, pemerintah berencana menjadikan Kalimantan sebagai model pengembangan transportasi sungai berbasis ekonomi hijau. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung keberlanjutan. Penggunaan energi terbarukan untuk kapal sungai serta desain pelabuhan ramah lingkungan sudah mulai di rancang.
Harapannya, dalam lima tahun ke depan, Kalimantan memiliki wajah baru transportasi Indonesia yang berakar pada kearifan lokal, namun maju dalam teknologi dan efisiensi—dan semua itu di wujudkan lewat penguatan Transportasi Sungai.