Mengenal Suku Tidung Di Daerah Kalimantan Utara

Mengenal Suku Tidung Di Daerah Kalimantan Utara

Mengenal Suku Tidung Sebagai Suku Asli Di Daerah Kalimantan Utara Sangat Menarik Untuk Kita Ketahui Mengenai Kebudayaannya. Suku Tidung yang berasal dari wilayah Kalimantan Utara tengah menjadi sorotan di berbagai platform media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Perhatian publik ini di picu oleh kemunculan foto seorang anak laki-laki yang sedang mengenakan busana tradisional khas Tidung. Pakaian ini di tampilkan pada lembaran uang peringatan senilai Rp75 ribu. Penampilan busana adat tersebut sempat memicu polemik di kalangan netizen. Pasalnya beberapa pihak menilai bahwa desain pakaiannya menyerupai kostum tradisional dari negara lain. Kendati demikian, kehadiran gambar tersebut pada mata uang nasional justru di nilai sebagai bentuk pengakuan terhadap keberadaan dan warisan budaya masyarakat Tidung.

Seorang budayawan yang berasal dari etnis Tidung, yakni Datuk Norbeck, menyampaikan bahwa kelompok etnik yang mendiami Pulau Kalimantan sebenarnya tidak terlalu banyak jumlahnya. Ia menilai bahwa di masukkannya unsur kebudayaan Tidung dalam desain uang edisi khusus itu merupakan wujud penghormatan atas identitas masyarakat Tidung di tengah keragaman suku bangsa Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa banyak orang sebelumnya kurang mengetahui keberadaan suku Tidung. Hal ini menurutnya dapat di jelaskan oleh faktor jumlah populasi mereka yang relatif kecil. Terlebih jika di bandingkan dengan kelompok etnis lain di Indonesia.

Melalui wawancara via sambungan telepon dengan media IDN Times, Datuk Norbeck mengungkapkan bahwa keterlibatan suku Tidung dalam simbol negara seperti uang kertas akan membuka mata publik terhadap eksistensi mereka. Ia memandang representasi budaya Tidung dalam bentuk visual tersebut sebagai kesempatan yang berharga. Terlebih untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya yang di miliki oleh komunitasnya. Oleh karenanya, ia berharap momentum ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat luas mengenai keberadaan suku Tidung. Momen ini sekaligus dapat mendorong pelestarian budaya mereka agar tetap hidup dan di kenal oleh generasi mendatang.

Mengenal Suku Tidung Dan Bahasa Daerahnya

Mengenal Suku Tidung Dan Bahasa Daerahnya sangat menarik untuk kita ketahui. Bahasa yang di gunakan oleh suku Tidung memiliki nilai sejarah yang cukup signifikan dalam konteks kebudayaan lokal Kalimantan. Bahkan dalam kerangka yang lebih luas yaitu kebudayaan nusantara. Meskipun demikian, asumsi bahwa suku Tidung termasuk salah satu komunitas etnis paling tua di wilayah kepulauan Indonesia masih membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Penegasan ini di sampaikan oleh budayawan suku Tidung, Norbeck, yang mengungkapkan bahwa hingga kini belum terdapat hasil riset ilmiah yang benar-benar mampu membuktikan secara meyakinkan klaim tersebut.

Meskipun latar belakang sejarah suku Tidung masih menjadi bahan diskusi, Norbeck mengutarakan bahwa bahasa yang dig unakan oleh masyarakat Tidung dapat di golongkan sebagai salah satu bahasa asli yang telah ada sejak lama di Kalimantan. Menurutnya, bahasa Tidung mungkin termasuk ke dalam kelompok bahasa kuno di kawasan tersebut. Dalam urut-urutan kronologis perkembangan bahasa lokal di Kalimantan, ia menjelaskan bahwa bahasa Tidung muncul lebih awal dib andingkan dengan bahasa Bulungan. Setelah itu, berkembang pula bahasa Berau. Kemudian di susul oleh bahasa Melayu Kutai. Selanjutnya yang paling baru ialah bahasa Melayu Banjar.

Pemaparan ini menunjukkan bahwa bahasa Tidung bukan hanya sekadar alat komunikasi bagi komunitasnya. Bahasa Tidung juga menyimpan jejak sejarah panjang dalam dinamika kebahasaan di Kalimantan. Bahasa tersebut dapat menjadi jendela untuk memahami asal usul, pola migrasi, serta interaksi budaya yang pernah terjadi di masa lampau.

Menurunnya Jumlah Penutur Bahasa

Fenomena Menurunnya Jumlah Penutur Bahasa Tidung menjadi perhatian penting. Terlebih dalam upaya pelestarian identitas budaya masyarakat asli Kalimantan Utara tersebut. Budayawan suku Tidung, Norbeck, mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa Tidung dalam kehidupan sehari-hari kian berkurang secara signifikan. Menurutnya, situasi ini tidak hanya terlihat pada generasi muda. Situasi ini juga terjadi di kalangan orang Tidung sendiri yang mulai kehilangan kemampuan untuk berbahasa Tidung secara tepat dan fasih. Ia menambahkan bahwa banyak individu dari suku Tidung saat ini bahkan tidak lagi menguasai bahasa leluhur mereka dengan benar. Baik dari segi pelafalan maupun struktur bahasanya. Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa Tidung sedang berada dalam kondisi yang cukup rawan terhadap kepunahan apabila tidak segera di ambil langkah pelestarian yang konkret.

Sebagai ilustrasi dari menurunnya populasi komunitas Tidung di beberapa wilayah, Norbeck menyebutkan bahwa di Kota Tarakan, jumlah penduduk yang berasal dari etnis Tidung kemungkinan besar tidak mencapai angka 20 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Persentase yang relatif kecil ini, menurutnya, berkontribusi terhadap semakin berkurangnya pemakaian bahasa Tidung dalam interaksi sehari-hari. Minimnya penggunaan bahasa ini dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan rumah tangga hingga ruang publik, mempercepat proses pelupaan bahasa tersebut oleh masyarakatnya sendiri. Dalam konteks ini, bahasa Tidung tidak hanya terancam kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi. Padahal Bahasa Tidung sangat penting sebagai simbol identitas kultural yang telah di wariskan dari generasi ke generasi.

Melihat kondisi tersebut, Norbeck menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah. Ia menyampaikan apresiasi atas upaya simbolik pemerintah dalam mengangkat kembali eksistensi suku Tidung. Upaya ini dapat di lihat dari penampilan busana adat mereka di uang kertas edisi khusus pecahan Rp75 ribu. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk pengakuan negara terhadap keberadaan suku Tidung dalam keragaman budaya Indonesia. Ia berharap penggambaran simbol budaya Tidung di media resmi negara seperti mata uang dapat mendorong kesadaran kolektif masyarakat.

Baju Adat Tidung

Keberadaan Baju Adat Tidung sebagai bagian dari identitas budaya kini menghadapi tantangan dalam hal pelestarian. Menurut penjelasan Norbeck, seorang budayawan dari kalangan masyarakat Tidung, sejumlah pakaian adat yang dahulu kerap di kenakan dalam berbagai perayaan adat maupun seremoni pernikahan kini sudah jarang di temukan.

Selain perubahan pada penggunaan busana adat, Norbeck juga mencatat terjadinya pergeseran dalam penyelenggaraan upacara pernikahan. Ia menyebutkan bahwa pada masa lampau, pesta pernikahan di kalangan suku Tidung dapat berlangsung hingga tujuh hari berturut-turut. Namun kini, durasinya telah mengalami penyusutan yang cukup drastis. Yang mana sebagian besar hanya berlangsung selama tiga hari. Bahkan ada pula yang hanya di adakan selama satu hari saja.

Dalam konteks pakaian adat, Norbeck menguraikan bahwa terdapat busana tradisional yang di kenal dengan sebutan baju Selampoy. Baju Selampoy di gunakan dengan cara di sampirkan di bahu. Busana ini termasuk dalam salah satu jenis pakaian adat yang memiliki makna simbolis dalam budaya Tidung. Di samping itu, masyarakat Tidung juga mengenal pakaian yang di kenakan dalam keseharian. Khususnya bagi perempuan yang disebut Kurung Bantut. Sedangkan busana laki-laki di namakan Tolimbangan.

Lebih lanjut, Norbeck menjelaskan bahwa busana resmi masyarakat Tidung turut mendapat pengaruh dari gaya berpakaian bangsa Eropa. Khususnya Bangsa Belanda, pada masa penjajahan. Ia menuturkan bahwa pakaian resmi laki-laki di sebut kustim (yang berasal dari kata “kustom”) dan menyerupai jas angkatan laut. Namun pemakaiannya tanpa di kancingkan. Sedangkan bagi perempuan, pakaian resminya menyerupai kebaya dengan potongan lengan yang longgar dan lebar. Biasanya, busana resmi ini di pakai pada malam ketiga dalam rangkaian upacara pernikahan. Akan tetapi, Norbeck menyayangkan bahwa pada masa kini, pakaian tersebut sudah sangat jarang di kenakan. Kecuali untuk acara-acara adat yang bersifat besar dan sakral.

Mengenal Suku Tidung sangat penting kita lakukan karena akan membantu melestarikan budaya Suku Tidung. Tentunya kehadiran Suku Tidung dapat lebih kita ketahui dengan lebih Mengenal Suku Tidung.