
Cara Otak Bekerja Saat Menerima Informasi Baru
Cara Otak Bekerja Ternyata Jauh Lebih Rumit Dari Yang Kita Bayangkan, Karena Setiap Detik Ada Ribuan Proses Kecil Yang Saling Terhubung. Setiap kali kita melihat, mendengar, membaca, atau mengalami sesuatu, otak langsung aktif memproses informasi tersebut dengan kecepatan yang luar biasa. Banyak orang tidak menyadari bahwa proses menerima informasi bukan hanya soal “mendengar lalu mengingat,” tetapi melibatkan perpaduan kerja listrik, kimia, dan fungsi berbagai bagian otak yang bekerja secara simultan. Menariknya lagi, setiap informasi baru yang kita terima sebenarnya bisa membentuk ulang koneksi dalam otak kita.
Ketika informasi masuk, otak tidak serta-merta menyimpannya. Informasi itu harus melewati proses seleksi, pengolahan, penyimpanan, dan kadang pembuangan. Kamu mungkin pernah merasa ingat sesuatu dengan sangat jelas, tapi melupakan hal penting lainnya. Itu bukan karena kamu pelupa, tetapi karena Cara Otak Bekerja punya sistemnya sendiri dalam menentukan mana informasi yang layak di simpan dan mana yang tidak terlalu penting. Dan proses ini terjadi setiap detik dalam hidup kita.
Di mulai dari Pancaindra: Informasi Masuk dari “Pintu Depan”. Semua informasi baru pertama kali masuk melalui pancaindra mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah. Namun, tidak semua informasi diterima secara sama. Misalnya, otak lebih cepat merespons visual dan suara dibandingkan aroma atau rasa. Ketika kamu membaca artikel ini, mata menangkap huruf-huruf, lalu otak menerjemahkannya menjadi makna.
Setiap pancaindra mengirim sinyal ke otak melalui neuron. Setelah di terima, otak akan memutuskan apakah informasi tersebut harus di proses lebih lanjut. Jika tidak penting, otak langsung mengabaikannya agar tidak menumpuk beban kognitif. Itulah kenapa kamu bisa berjalan di jalanan ramai tanpa mengingat semua suara yang kamu dengar.
Korteks Sensorik: Tempat “Mengartikan” Informasi Pertama Kali
Korteks Sensorik: Tempat “Mengartikan” Informasi Pertama Kali. Begitu sinyal dari pancaindra masuk, mereka “mampir” dulu ke korteks sensorik. Di sinilah informasi diidentifikasi: suara diklasifikasikan, gambar dikenali, sentuhan dibedakan. Misalnya, ketika kamu mendengar suara seseorang memanggil nama kamu, korteks auditori menerjemahkan suara itu menjadi kata yang kamu kenal.
Bagian ini bisa dianggap sebagai tahap pertama pengolahan. Informasi belum dianggap penting di sini, tapi sedang “ditata” agar siap dikirim ke tahap berikutnya. Jika informasi terasa familiar misalnya wajah temanmu atau aroma masakan rumah otak lebih cepat memprosesnya karena sudah punya data sebelumnya.
Hippocampus: Sang Manajer Memori. Semua informasi baru yang ingin disimpan harus melewati hippocampus. Bagian otak ini bertugas memilih informasi mana yang layak menjadi memori jangka panjang. Kalau korteks sensorik ibarat ruangan sortir, hippocampus adalah kantor manajemen yang menentukan apa yang penting.
Jika kamu belajar sesuatu yang benar-benar baru, seperti istilah asing atau fakta sains, hippocampus akan bekerja lebih keras. Informasi di-review, diperkuat, lalu disimpan. Tetapi jika informasi hanya lewat sekilas seperti nomor mobil di parkiran hippocampus akan memutuskan bahwa itu tidak penting dan akan di lupakan. Menariknya, hippocampus sangat aktif saat kamu fokus, tapi akan melemah saat kamu lelah, stres, atau terganggu. Itu sebabnya belajar sambil capek membuat informasi sulit masuk.
Sistem Reward: Kenapa Informasi Menarik Lebih Mudah Di ingat. Kalau kamu pernah bertanya-tanya kenapa kamu gampang ingat hal-hal lucu, dramatis, atau menarik, penyebabnya adalah sistem reward otak. Ketika informasi terasa menyenangkan, mengejutkan, atau membuat kamu penasaran, otak mengeluarkan dopamin. Hormon ini membuat koneksi neuron lebih kuat, sehingga memori terbentuk lebih mudah.
Sebaliknya, informasi membosankan atau di pelajari dengan terpaksa cenderung tidak di simpan dengan baik. Itulah mengapa belajar sesuatu yang tidak kamu minati terasa jauh lebih sulit.
Neuroplastisitas: Otak Berubah Setiap Kali Kamu Belajar
Neuroplastisitas: Otak Berubah Setiap Kali Kamu Belajar. Setiap kali kamu menerima informasi baru, neuron membangun hubungan baru atau memperkuat hubungan lama. Ibarat jalan setapak yang awalnya kecil, semakin sering kamu melewatinya, semakin lebar dan jelas jalurnya.
Ini alasan kenapa belajar butuh pengulangan. Semakin sering kamu memikirkan atau melatih suatu informasi, semakin kuat koneksinya. Sebaliknya, koneksi yang jarang dipakai akan melemah dan “dipangkas” oleh otak melalui proses yang disebut pruning. Dengan kata lain, otakmu secara harfiah berubah setiap kali kamu belajar sesuatu.
Memori Jangka Pendek vs. Memori Jangka Panjang. Informasi baru pertama kali di simpan sebagai memori jangka pendek. Ingatan ini hanya bertahan beberapa detik sampai beberapa jam. Kalau kamu tidak mengulangnya atau tidak menganggapnya penting, informasi itu akan hilang begitu saja.
Agar informasi pindah ke memori jangka panjang, otak butuh:
-
perhatian yang cukup
-
pengulangan
-
konteks yang jelas
-
hubungan dengan informasi lama
-
suasana hati yang stabil
Ini juga alasan kenapa belajar sambil multitasking membuat ingatan mudah hilang.
Tidur: Fase di Mana Otak Menyusun Ulang Informasi Baru. Yang banyak orang tidak tahu, proses menyimpan informasi secara permanen justru terjadi saat tidur. Ketika kamu tidur nyenyak, terutama pada fase REM dan deep sleep, otak mulai “mengarsipkan” informasi dari hari itu. Informasi penting di pindahkan ke memori jangka panjang, sedangkan yang tidak penting di buang. Inilah sebabnya mengapa tidur setelah belajar sangat membantu. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa tidur sebentar (power nap) dapat meningkatkan kemampuan mengingat hingga dua kali lipat.
Emosi: Faktor yang Memperkuat atau Melemahkan Ingatan. Emosi memainkan peran besar dalam proses menerima dan menyimpan informasi. Informasi yang di sertai emosi kuat baik senang, takut, sedih, atau terkejut lebih mudah di ingat karena amigdala mengirimkan sinyal ke otak untuk “mengutamakan” informasi tersebut. Sebaliknya, stres berlebihan justru menghambat proses belajar karena hormon kortisol dapat mengganggu kerja hippocampus.
Relevansi: Otak Hanya Menyukai Hal Yang Berguna
Relevansi: Otak Hanya Menyukai Hal Yang Berguna. Otak sangat selektif. Ia lebih mudah menyimpan informasi yang dekat dengan kehidupan kita, memiliki manfaat langsung, membuat kita penasaran, atau terhubung dengan pengalaman sebelumnya. Inilah alasan kenapa kita lebih mudah mengingat hal-hal yang punya hubungan dengan aktivitas sehari-hari dibanding teori abstrak yang tidak pernah kita gunakan.
Misalnya, kamu bisa dengan cepat mengingat rute baru ke tempat kerja karena kamu memakainya setiap hari. Tapi kamu mungkin lupa rumus matematika tertentu yang dulu di pelajari di sekolah karena sekarang tidak relevan lagi dengan hidupmu. Otak pada dasarnya tidak ingin boros energi. Ia hanya menyimpan hal-hal yang di anggap penting, berguna, atau punya peluang muncul kembali di masa depan.
Relevansi juga memengaruhi cara kita memahami informasi. Ketika sesuatu terasa dekat dengan kehidupan kita, otak akan memberi perhatian lebih, sehingga proses pengolahan dan penyimpanan berlangsung lebih kuat. Bahkan, sebuah informasi biasa-biasa saja bisa jadi mudah di ingat hanya karena relevan pada saat tertentu. Contohnya ketika kamu ingin belajar memasak, tiba-tiba kamu mudah mengingat resep, teknik, dan alat dapur padahal sebelumnya tidak pernah peduli.
Otak Selalu Belajar, Tapi Tidak Selalu Menyimpan. Proses menerima informasi baru adalah kombinasi dari sensorik, penyaringan, pengolahan, emosi, dan penyimpanan. Otak bekerja cepat, namun tetap selektif. Setiap hari, otak memutuskan informasi mana yang penting, mana yang harus di simpan, dan mana yang boleh di lepas begitu saja.
Artinya, kalau kamu ingin lebih mudah memahami sesuatu, kamu bisa bantu otak dengan:
-
fokus
-
mengulang informasi
-
istirahat yang cukup
-
menghubungkan hal baru ke pengalaman lama
-
membuat proses belajar menyenangkan
Pada akhirnya, semakin sering kita menggunakan otak untuk menerima dan memproses informasi baru, semakin tajam dan fleksibel kemampuan berpikir kita dalam memahami Cara Otak Bekerja.